Kemauan dan kesungguhan hati untuk terus mencari ruang tumbuh dan berkembang adalah satu keniscayaan. Karena tumbuh dan berkembang merupakan hakikat hidup kita sebagai manusia, yang mana tidak akan mungkin bagi kita untuk terlepas dari kenyataan bahwa hidup adalah sebuah proses pembelajaran yang sejati.

Sudah menjadi hukum dasar manusia bahwa pendidikan seumur hidup (life long education) harus terus menerus kita jalani, walaupun usia nanti akan menua. Masa awal hidup kita sebagai bayi, kita belajar untuk makan, minum dan berbicara. Di masa muda sebagai anak-anak dan remaja kita terus belajar menuntut ilmu dan menggali pengalaman. Hingga di masa tua kita belajar untuk dapat mewariskan suatu legacy dan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus kita.

Semangat untuk selalu bergerak mencari ruang bertumbuh harus terus kita jaga agar kita dapat terlepas dari stagnasi kehidupan yang akan menahan kita berada pada zona nyaman. Perlu kita ingat selalu bahwa stagnasi merupakan musuh besar dari konsistensi dan dapat menghambat pertumbuhan.

Stagnasi adalah Musuh Besar dari Konsistensi

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan stagnasi sebagai suatu keadaan berhenti, keadaan tidak maju ataupun keadaan maju tetapi pada tingkat yang sangat lambat. Stagnasi adalah keadaan tanpa pergerakan yang berarti.

Keadaan tersebut harus dapat dilawan, karena stagnasi dapat menghambat pertumbuhan, yang sejatinya merupakan aspek penting dalam menjalani proses kehidupan.

Kita tentu ingat bahwa konsistensi merupakan salah satu kunci untuk menggapai kesuksesan. Konsisten dalam belajar, konsisten dalam berlatih, bahkan konsisten dalam berusaha.

Seseorang yang ingin maju harus selalu bisa menjaga konsistensi. Dan untuk bisa menjaga konsistensi dalam setiap usaha, kita harus dapat bergerak agar tidak terjebak dalam zona nyaman, terjebak dalam keadaan yang stagnan.

Ruang untuk Terus Tumbuh dan Berkembang

Setiap profesi tentu memiliki titik jenuh. Sebuah titik “keramat” yang menjadi musuh bagi orang-orang yang menjalani profesi tersebut. Sebuah titik yang bila seseorang jatuh di dalamnya dan tetap merasa “baik-baik saja”, itu berarti dia tengah berada dalam keadaan stagnan. Keadaan tanpa kemajuan ataupun keadaan tanpa pergerakan yang berarti.

Satu resep penting yang mungkin dapat menghindarkan kita dari “jatuh” ke dalam titik jenuh sebuah profesi adalah dengan terus mencari dan mengeksplorasi ruang-ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Seorang musisi harus berani mencoba belajar genre musik yang berbeda dengan yang selama ini ditekuninya. Seorang programmer harus mencoba untuk melangkah mempelajari bahasa pemrograman lain yang belum pernah dia coba sebelumnya. Bahkan seorang pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) juga harus dapat mencoba hal baru untuk menunjang keilmuan dan keahliannya sebagai abdi negara.

Seorang ASN harus dapat “memaksa diri” untuk belajar dan berlatih. Dapat dengan menulis, bisa juga dengan membuat berbagai konten digital yang bermanfaat bagi orang lain. Menulis dan membuat sebuah konten berarti juga membaca dan melakukan riset yang mendalam. Ini berarti sebagai pribadi dia akan terus belajar dan menggali sesuatu yang baru, yang mungkin belum pernah dia ketahui sebelumnya.

Voltaire (François-Marie Arouet) seorang penulis, sejarawan, dan filsuf dari Perancis pernah menyebutkan sebuah kalimat, “Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir; semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun”.

Kalimat tersebut merupakan salah satu penyemangat bahwa ruang untuk tumbuh dan berkembang selalu terbuka lebar. Bagi siapapun yang serius mencarinya, bagi siapapun yang sungguh-sungguh menyadari bahwa hidup adalah proses pembelajaran tanpa henti.

Share:
5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments